hidayatullah.com
Dunia Pendidikan Tinggi Indonesia (PTI) sering tercoreng oleh perilaku peserta didiknya. Media cetak atau elektronik sudah biasa memberitakan peristiwa negatif yang dilakukan para mahasiswa seperti tindakan amoral, seks bebas (free sex), tawuran, atau penyalahgunaan narkotika. “Kasus-kasus seperti itu merupakan bentuk kegagalan sistem pendidikan di negeri ini,” jelas DR. Dr. Mohammad Rofiq Anwar, Sp.PA, Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Jawa Tengah.
Mengapa gagal? Sebab, kata pria yang biasa disapa Rofiq ini, lebih dari 90 persen konten pendidikan di Indonesia mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan moralitas dan ahklak hanya mendapat porsi 10 persen.
”Ini yang menyebabkan mahasiswa tidak memiliki hati nurani saat terjun ke masyarakat setelah lulus,” tegasnya lagi.
Contohnya, betapa banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana ekonomi namun korupsi masih merajalelanya. Demikian juga banyak sarjana hukum tapi hukum di Indonesia masih carut marut.
Ini semua, katanya, akibat sistem pendidikan yang kurang memperhatikan masalah moralitas.
“Kami berharap pemerintah mengeluarkan PP (Peraturan Pemerintah) sebagai jabaran dari UU Sisdiknas. PP ini akan menjadi payung hukum pelaksanaan sistem pendidikan yang mengedepankan nilai, ahklak, dan moral,” katanya.
Dengan PP itu, Sisdiknas mempunyai kekuatan untuk diimplementasikan. Sehingga pendidikan tidak hanya memperhatikan aspek fisik dan kognitif saja, tapi yang lebih penting, mengantarkan perserta didik menjadi orang yang bertakwa. ”Dengan akhlak yang baik, pengembangan iptek otomatis akan lebih baik,” ujarnya.
Menurut Rofiq, membangun karakter bangsa jauh lebih penting daripada mengejar kemajuan Iptek. Bila karakter bangsa sudah terbangun, dua aspek tadi, fisik dan kognitif, dengan sendirinya akan mengikuti.
“Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar transformasi keilmuan, tapi lebih luas lagi yaitu menanamkan nilai-nilai moral atau akhlak mulia,” tegasnya lagi.
Kepada wartawan Suara Hidayatullah, Bahrul Ulum, Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jawa Tengah ini berbicara banyak tentang konsep pendidikan Islam, Perguruan Tinggi Islam (PTI), kebijakannya di Unissula, serta aktifitasnya di dunia dakwah.
Seperti apa Anda melihat pendidikan tinggi di Indonesia saat ini?
Pendidikan tinggi sekarang ini sudah terjebak dalam sebuah orientasi yang keliru, yaitu menjadikan dirinya sebagai sebuah industri yang tidak ada bedanya dengan sebuah pabrik. Mereka hanya berfikir memproduk manusia siap pakai dan laku di pasar tenaga kerja.
Dampaknya, tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuan murni dan budaya belajar sebagaimana mestinya. Mereka lebih sibuk mencari program studi yang diminati masyarakat. Kemudian berusaha mencetak mahasiswa yang hanya siap kerja.
Bukankah mencetak mahasiswa yang siap kerja tidak salah?
Kalau tujuannya hanya sekadar mencetak manusia siap kerja, jelas itu salah. Karena sesungguhnya peran perguruan tinggi bukan semata-mata untuk itu.
Selain mencetak manusia yang unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, juga punya peran strategis, yaitu membangun dan mengembangkan karakter pribadi yang baik. Ini yang paling penting.
Tapi faktanya sebagian besar perguruan tinggi hanya mengejar faktor yang pertama. Bagaimana mengantispasi ini?
Di sinilah PTI harus menunjukkan perannya. Sudah waktunya PTI menjadi sebuah institusi yang bisa mencerahkan bangsa yang saat ini sedang terpuruk dalam budaya materi yang hanya melahirkan sikap serakah, hedonistik, dan permisif.
Anda yakin PTI bisa memainkan perannya dalam kondisi seperti ini?
Justru ini yang menjadi modal penting. PTI harus yakin bisa melakukan perubahan. Orang tidak bisa melangkah dengan benar kecuali dengan keyakinan yang benar. Kita tidak boleh ragu sedikitpun pun akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala (SWT) selama kita mengikuti petunjuk-Nya. Ini disebutkan dalam surat al-Baqarah [2] ayat 38.
Allah SWT yang menciptakan kita dan alam semesta ini. Jadi tidak mungkin Dia meninggalkan hamba-hamba-Nya yang betul-betul beriman. Dia pasti membimbing kita selama kita sungguh-sungguh meminta pertolongan-Nya. Apalagi kita sudah diberi al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup kita.
Al-Qur’an dan Hadits harus kita jadikan pegangan hidup, termasuk dalam pengembangan Iptek. Kita tidak bisa mengandalkan kepemimpinan Iptek yang lahir dari garis peradaban yang bukan Islam.
Apa maksudnya?
PTI harus mampu menggantikan peradaban materi yang diusung oleh Perguruan Tinggi Barat dengan peradaban Islam. Peradaban materi adalah peradaban yang dibangun oleh Iptek yang dihasilkan oleh pandangan hidup materialisme.
Sedangkan peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh Iptek yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam.
Jadi tugas pokok PTI itu, pertama, membangun dan mengembangkan Iptek yang didasari oleh nilai-nilai Islam. Kedua, mendidik generasi terbaik atau khairu ummah.
Dan ketiga, membangun kembali peradaban Islam sebagai way of life (cara hidup) dari carut-marutnya peradaban dunia yang diakibatkan oleh peradaban materi itu.
Karakter PTI itu sebenarnya seperti apa di tengah-tengah dunia pendidikan tinggi kita?
PTI sebenarnya memiliki karakter yang berbeda dengan perguruan tinggi umum. Ia tidak menyontek dan bukan keturunan atau duplikat perguruan tinggi Barat yang menfokuskan pengajarannya kepada hal-hal yang bersifat materialisme.
Meski begitu kita tidak anti-Barat. Sebab, ada yang bisa kita ambil dari Barat yang menurut kacamata Islam memang baik. Segala yang baik kita ambil, dan yang tidak baik kita tinggalkan.
Karena itu PTI harus menjadi trend setter dalam membangun dunia baru, yaitu dunia dengan peradaban Islam. Di sinilah peran PTI semakin penting.
PTI harus bisa merevolusi sistem pendidikan di negera kita yang sudah terkooptasi oleh nilai-nilai Barat yang sekuler.
Faktanya, ada sebagian PTI yang malah justru bangga mengadopsi konsep Barat. Bagaimana tanggapan Anda?
Inilah yang kita sesalkan. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Karena sesungguhnya orientasi dan tujuan pendidikan Islam dan Barat jelas-jelas berbeda.
Pendidikan Barat cenderung memisahkan ilmu dari amal.Tradisi mereka memang seperti itu.
Karena itu jangan heran jika ada dosen yang pernah belajar ke sana pandai tentang ilmu-ilmu keislaman tetapi minim amalnya. Maklum, mereka belajar kepada orientalis yang pandai al-Qur`an tetapi tetap tidak mengimani al-Qur`an sebagai wahyu Allah SWT.
Mereka pandai tentang sejarah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), tetapi tetap tidak mengimani kenabian Muhammad SAW.
Ironisnya, para orientalis itu kemudian mendidik para sarjana Muslim agar menjadi pengamat agama yang baik, tanpa harus menjadi orang yang beragama dengan sungguh-sungguh.
Membangun Budaya Akademis Islami
Melarang merokok, mewajibkan shalat berjamah dan berbusana Muslimah
Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dibawah kepemimpinan Rofiq Anwar melakukan gebrakan penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Unissula gencar mengkaji dan mengaplikasikan budaya akademik Islami. Berbagai seminar, kajian, dan pelatihan dilakukan.
Tidak hanya itu. Unissula juga mencoba mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Shalat berjamaah diwajibkan untuk dosen dan mahasiswa. Merokok di kampus dilarang. Mahasiswi wajib berjilbab, sedang yang non-Muslim harus berpakaian sopan.
Tentu saja ini bukan hal mudah. Apalagi untuk kalangan dosen. Memaksa semua dosen untuk melakukan shalat jamaah saat berada di kampus juga bukan hal yang ringan.
Unissula juga harus rela kehilangan dana-dana sponsor ratusan juta rupiah yang berasal dari pabrik-pabrik rokok. Belum lagi tindakan protes dari mahasiswa yang merasa dirugikan dengan peraturan itu.
”Awalnya banyak yang menentang, baik dari mahasiswa maupun dosen,” jawab Rofiq ketika ditanya respon civitas akademika dengan kebijakannya itu. Namun, semua itu tidak mengubah pendiriannya. ”Kebijakan ini harus tetap berjalan demi kebaikan seluruh civitas akademika Unissula,” terangnya.
Baginya, apa yang dilakukan merupakan sebuah perjuangan demi menegakkan nilai-nilai Islam di kampus yang dipimpinnya. ”Kita diberi kekuasaan oleh Allah, ya harus demi agama Allah, apapun risikonya,” tegasnya lagi.
Salah seorang pengurus Muhammadiyah Jawa Tengah ini berpendirian bahwa untuk melakukan sebuah perubahan perlu ada keberanian. ”Kehilangan harta dan jabatan itu kecil, namun jika kehilangan keberanian berarti kehilangan segala-galanya,” begitu Rofiq berprinsip.
Ketua Komisi Kajian Islam dan Pembangunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini menyadari bahwa tujuan pendidikan menurut Islam adalah membuat seseorang dapat memahami kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala (SWT) –yang tersirat dan tersurat– dengan segala peraturan-peraturan-Nya serta mampu menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT. ”Karena itulah semua peserta didik harus di arahkan ke sana,” jelasnya.
Pendidikan dalam Islam, menurutnya, juga merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental, maupun moral. Semuanya itu untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. ”Dari sinilah kita akan membangun peradaban Islam,” urainya.
Dengan berbagai kebijakan baru itu, Anda ingin memposisikan Unissula seperti apa?
Ini sesuai dengan missi dan visi Unnisula. Visi Unissula yaitu membangun generasi khaira ummah (umat terbaik), melalui upaya pengembangan Iptek atas dasar nilai-nilai Islam dan membangun peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera yang dirahmati Allah SWT dalam kerangka rahmatan lil a’lamin.
Sedangkan missinya adalah menyelenggarakan PTI dalam rangka dakwah Islamiyah yang berorientasi pada kualitas dan kesetaraan universal.
Kenapa mesti lewat lembaga pendidikan untuk membangun generasi khairu ummah?
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan benar-benar bisa dirasakan dan diaktualisasikan. Itu semua sebuah proses yang panjang ketika dari sekian lama kaum Muslimin berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu ke-Islaman yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban yang berbeda dengan peradaban sebelumnya, sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Afrika, Asia Barat, hingga Eropa Timur.
Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa keemasan sepanjang abad pertengahan telah berhasil memberikan pencerahan di berbagai belahan dunia. Hal ini merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa peradaban Islam tidak dapat lepas dari peran serta sistem pendidikan yang berbasis al-Qur`an dan Hadits.
Apakah karena itu Unissula membangun peradaban Islam melalui tradisi keilmuan Islam?
Ya. Unissula adalah PTI sehingga punya tanggung jawab mengembangkan tradisi keilmuan Islam. Karena itulah kami rela mengucurkan dana untuk itu.
Sebagai contoh kami tetap mempertahankan eksistensi Fakultas Agama Islam dengan cara memberikan beasiswa bagi sejumlah mahasiswa, terutama dari kalangan santri yang berkualitas, misalnya hafidz al-Qur’an.
Kami menyadari bahwa peminat fakultas ini memang sepi jika dibandingkan dengan fakultas umum seperti kedokteran. Namun hal itu tidak mengurangi perhatian kami terhadap fakultas tersebut.
Apa yang dilakukan Unissula dalam membangun tradisi ilmu Islam tersebut?
Kami rutin mengadakan seminar, kajian, dan pelatihan demi meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa. Kami juga mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga yang menurut kami memiliki visi dan misi yang sama seperti Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, Ponorogo. Juga dengan Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).
Kerjasama ini dimaksudkan untuk menggali lebih dalam masalah keilmuan Islam yang bisa diaplikasikan di perguruan tinggi Islam. Kami ingin Unissula menjadi lembaga pendidikan tinggi yang memiliki ciri tradisi keilmuan Islam.
Salah satu ciri tradisi keilmuan Islam adalah menyatukan antara ilmu dan amal, antara ilmu dan akhlak. Maka di dalam Islam, jika ada ilmuwan/ulama yang fasik atau rusak amalnya, dia tidak diterima sebagai bagian dari ulama Islam.
Seorang yang berilmu Islam wajib mengamalkan ilmunya. Karena itulah di kampus ini ada kewajiban melaksanakan shalat berjamaah dan berbusana Muslim. Kebijakan itu saya buat ketika saya dilantik menjabat rektor. Kemudian saya mewajibkan memakai jilbab bagi mahasiswi dan melarang siapa saja merokok di area kampus.
Saya dengar ada penentangan dari mahasiswa dan beberapa dosen. Bagaimana Anda mengatasinya?
Saya menyadari pasti akan ada pertentangan dari mereka yang merasa dirinya dirugikan karena kebiasan mapan yang mereka lakukan sebelumnya. Namun saya pelan-pelan memberikan pengertian kepada mereka bahwa kebijakan yang saya buat semuanya demi kebaikan kita bersama.
Kemudian saya mengambil langkah-langkah di antaranya, membentuk sebuah tim yang dinamakan tim motivator yang berjumlah 40-an orang yang terdiri dari dosen dan pegawai kampus.
Tim ini saya tugaskan untuk memberi motivasi kepada dosen maupun mahasiswa agar melaksanakan kebijakan yang saya buat seperti shalat berjamaah, memakai jilbab, dan tidak merokok. Tim ini bertugas memberi nasehat dan menegur mereka yang melanggar kebijakan tersebut. Alhamdulillah, hasilnya positif. Anda bisa lihat sendiri tadi jumlah jamaah shalat di masjid. Sebelumnya, hanya sekitar 20 sampai 40 orang.
Kemudian dibentuk lagi tim yang namanya Kasih Sayang. Harapan saya mahasiswa Islam harus bisa menjadi sosok teladan yang baik dan penuh kasih sayang bagi yang lain. Inilah yang yang kami sebut sebagai budaya akademik Islami.
Apa latar belakang Anda menelurkan kebijakan tersebut?
Inilah dakwah yang bisa saya lakukan untuk Islam. Ketika Allah memberi kekuasaan kepada saya, harus saya manfaatkan untuk kepentingan dakwah Islam. Saya sadar bahwa kekuasaan itu adalah amanah yang nanti pasti dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Saya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang saya pimpin. Prinsip inilah yang saya pegang kuat.
Ketika mendapat amanah sebagai Rektor, saya bertekad untuk melakukan perubahan di Unissula. Di antaranya, budaya kampus yang tidak Islami.
Perubahan itu seperti apa?
Mengghapus pengaruh-pengaruh Barat seperti menghapus milad atau dies natalis yang tidak bermanfaat. Unissula telah membangun budaya baru yaitu menjiwai dan melaksanakan kalender Islam sebagai bentuk ketundukan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.
Selama 4 tahun ini Unissula telah membudayakan peringatan 1 Muharam untuk menguatkan semangat kebangkitan Islam. Peringatan ini menggantikan budaya memperingati 1 Januari (tahun baru) yang isinya hura-hura dan maksiat. Kami ingin para civitas akademika Unissula mempunyai semangat terhadap kebangkitan Islam.
Kebangkitan Islam bukan berarti menjajah bangsa non Islam, tetapi bagaimana menggantikan peradaban materi menjadi peradaban nilai yang sesuai dengan al Qur`an dan Sunnah. Salah satu peran Unissula dalam hal ini adalah rekonstruksi ilmu, pengabdian kepada masyarakat.
Lewat program BUDAI (Budaya Akademik Islami) yang kami galakkan diharapkan lahir budaya yang baik seperti bagaimana bergaul yang islami, cara menghilangkan budaya materialisme, hedonisme dan westernisasi di kampus ini. Serta, yang paling penting adalah membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Tidak hanya berhenti di situ saja, lewat program ini semua mahasiswa, dosen, karyawan diharapkan mempunyai adab-adab yang wajib ditaati, misalnya bersikap ramah, melakukan perbuatan dan perilaku yang santun, semua mahasiswi memakai jilbab, tidak merokok di area kampus, datang tepat waktu, dan shalat berjamaah.
Lewat program inilah nantinya diharapkan akan tercipta kemajuan bagi umat Islam yaitu terbentuknya generasi khairo ummah. Alumni Unissula diharapkan selain menjadi orang yang pandai dalam bidang Iptek, diharapkan juga bisa menjadi generasi Muslim yang unggul, yang siap untuk membawa kemajuan peradaban Islam. SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2008
Mengapa gagal? Sebab, kata pria yang biasa disapa Rofiq ini, lebih dari 90 persen konten pendidikan di Indonesia mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan moralitas dan ahklak hanya mendapat porsi 10 persen.
”Ini yang menyebabkan mahasiswa tidak memiliki hati nurani saat terjun ke masyarakat setelah lulus,” tegasnya lagi.
Contohnya, betapa banyak perguruan tinggi yang meluluskan sarjana ekonomi namun korupsi masih merajalelanya. Demikian juga banyak sarjana hukum tapi hukum di Indonesia masih carut marut.
Ini semua, katanya, akibat sistem pendidikan yang kurang memperhatikan masalah moralitas.
“Kami berharap pemerintah mengeluarkan PP (Peraturan Pemerintah) sebagai jabaran dari UU Sisdiknas. PP ini akan menjadi payung hukum pelaksanaan sistem pendidikan yang mengedepankan nilai, ahklak, dan moral,” katanya.
Dengan PP itu, Sisdiknas mempunyai kekuatan untuk diimplementasikan. Sehingga pendidikan tidak hanya memperhatikan aspek fisik dan kognitif saja, tapi yang lebih penting, mengantarkan perserta didik menjadi orang yang bertakwa. ”Dengan akhlak yang baik, pengembangan iptek otomatis akan lebih baik,” ujarnya.
Menurut Rofiq, membangun karakter bangsa jauh lebih penting daripada mengejar kemajuan Iptek. Bila karakter bangsa sudah terbangun, dua aspek tadi, fisik dan kognitif, dengan sendirinya akan mengikuti.
“Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar transformasi keilmuan, tapi lebih luas lagi yaitu menanamkan nilai-nilai moral atau akhlak mulia,” tegasnya lagi.
Kepada wartawan Suara Hidayatullah, Bahrul Ulum, Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jawa Tengah ini berbicara banyak tentang konsep pendidikan Islam, Perguruan Tinggi Islam (PTI), kebijakannya di Unissula, serta aktifitasnya di dunia dakwah.
Seperti apa Anda melihat pendidikan tinggi di Indonesia saat ini?
Pendidikan tinggi sekarang ini sudah terjebak dalam sebuah orientasi yang keliru, yaitu menjadikan dirinya sebagai sebuah industri yang tidak ada bedanya dengan sebuah pabrik. Mereka hanya berfikir memproduk manusia siap pakai dan laku di pasar tenaga kerja.
Dampaknya, tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuan murni dan budaya belajar sebagaimana mestinya. Mereka lebih sibuk mencari program studi yang diminati masyarakat. Kemudian berusaha mencetak mahasiswa yang hanya siap kerja.
Bukankah mencetak mahasiswa yang siap kerja tidak salah?
Kalau tujuannya hanya sekadar mencetak manusia siap kerja, jelas itu salah. Karena sesungguhnya peran perguruan tinggi bukan semata-mata untuk itu.
Selain mencetak manusia yang unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, juga punya peran strategis, yaitu membangun dan mengembangkan karakter pribadi yang baik. Ini yang paling penting.
Tapi faktanya sebagian besar perguruan tinggi hanya mengejar faktor yang pertama. Bagaimana mengantispasi ini?
Di sinilah PTI harus menunjukkan perannya. Sudah waktunya PTI menjadi sebuah institusi yang bisa mencerahkan bangsa yang saat ini sedang terpuruk dalam budaya materi yang hanya melahirkan sikap serakah, hedonistik, dan permisif.
Anda yakin PTI bisa memainkan perannya dalam kondisi seperti ini?
Justru ini yang menjadi modal penting. PTI harus yakin bisa melakukan perubahan. Orang tidak bisa melangkah dengan benar kecuali dengan keyakinan yang benar. Kita tidak boleh ragu sedikitpun pun akan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala (SWT) selama kita mengikuti petunjuk-Nya. Ini disebutkan dalam surat al-Baqarah [2] ayat 38.
Allah SWT yang menciptakan kita dan alam semesta ini. Jadi tidak mungkin Dia meninggalkan hamba-hamba-Nya yang betul-betul beriman. Dia pasti membimbing kita selama kita sungguh-sungguh meminta pertolongan-Nya. Apalagi kita sudah diberi al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidup kita.
Al-Qur’an dan Hadits harus kita jadikan pegangan hidup, termasuk dalam pengembangan Iptek. Kita tidak bisa mengandalkan kepemimpinan Iptek yang lahir dari garis peradaban yang bukan Islam.
Apa maksudnya?
PTI harus mampu menggantikan peradaban materi yang diusung oleh Perguruan Tinggi Barat dengan peradaban Islam. Peradaban materi adalah peradaban yang dibangun oleh Iptek yang dihasilkan oleh pandangan hidup materialisme.
Sedangkan peradaban Islam adalah peradaban yang dibangun oleh Iptek yang dihasilkan oleh pandangan hidup Islam.
Jadi tugas pokok PTI itu, pertama, membangun dan mengembangkan Iptek yang didasari oleh nilai-nilai Islam. Kedua, mendidik generasi terbaik atau khairu ummah.
Dan ketiga, membangun kembali peradaban Islam sebagai way of life (cara hidup) dari carut-marutnya peradaban dunia yang diakibatkan oleh peradaban materi itu.
Karakter PTI itu sebenarnya seperti apa di tengah-tengah dunia pendidikan tinggi kita?
PTI sebenarnya memiliki karakter yang berbeda dengan perguruan tinggi umum. Ia tidak menyontek dan bukan keturunan atau duplikat perguruan tinggi Barat yang menfokuskan pengajarannya kepada hal-hal yang bersifat materialisme.
Meski begitu kita tidak anti-Barat. Sebab, ada yang bisa kita ambil dari Barat yang menurut kacamata Islam memang baik. Segala yang baik kita ambil, dan yang tidak baik kita tinggalkan.
Karena itu PTI harus menjadi trend setter dalam membangun dunia baru, yaitu dunia dengan peradaban Islam. Di sinilah peran PTI semakin penting.
PTI harus bisa merevolusi sistem pendidikan di negera kita yang sudah terkooptasi oleh nilai-nilai Barat yang sekuler.
Faktanya, ada sebagian PTI yang malah justru bangga mengadopsi konsep Barat. Bagaimana tanggapan Anda?
Inilah yang kita sesalkan. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Karena sesungguhnya orientasi dan tujuan pendidikan Islam dan Barat jelas-jelas berbeda.
Pendidikan Barat cenderung memisahkan ilmu dari amal.Tradisi mereka memang seperti itu.
Karena itu jangan heran jika ada dosen yang pernah belajar ke sana pandai tentang ilmu-ilmu keislaman tetapi minim amalnya. Maklum, mereka belajar kepada orientalis yang pandai al-Qur`an tetapi tetap tidak mengimani al-Qur`an sebagai wahyu Allah SWT.
Mereka pandai tentang sejarah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), tetapi tetap tidak mengimani kenabian Muhammad SAW.
Ironisnya, para orientalis itu kemudian mendidik para sarjana Muslim agar menjadi pengamat agama yang baik, tanpa harus menjadi orang yang beragama dengan sungguh-sungguh.
Membangun Budaya Akademis Islami
Melarang merokok, mewajibkan shalat berjamah dan berbusana Muslimah
Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dibawah kepemimpinan Rofiq Anwar melakukan gebrakan penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Unissula gencar mengkaji dan mengaplikasikan budaya akademik Islami. Berbagai seminar, kajian, dan pelatihan dilakukan.
Tidak hanya itu. Unissula juga mencoba mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari di kampus. Shalat berjamaah diwajibkan untuk dosen dan mahasiswa. Merokok di kampus dilarang. Mahasiswi wajib berjilbab, sedang yang non-Muslim harus berpakaian sopan.
Tentu saja ini bukan hal mudah. Apalagi untuk kalangan dosen. Memaksa semua dosen untuk melakukan shalat jamaah saat berada di kampus juga bukan hal yang ringan.
Unissula juga harus rela kehilangan dana-dana sponsor ratusan juta rupiah yang berasal dari pabrik-pabrik rokok. Belum lagi tindakan protes dari mahasiswa yang merasa dirugikan dengan peraturan itu.
”Awalnya banyak yang menentang, baik dari mahasiswa maupun dosen,” jawab Rofiq ketika ditanya respon civitas akademika dengan kebijakannya itu. Namun, semua itu tidak mengubah pendiriannya. ”Kebijakan ini harus tetap berjalan demi kebaikan seluruh civitas akademika Unissula,” terangnya.
Baginya, apa yang dilakukan merupakan sebuah perjuangan demi menegakkan nilai-nilai Islam di kampus yang dipimpinnya. ”Kita diberi kekuasaan oleh Allah, ya harus demi agama Allah, apapun risikonya,” tegasnya lagi.
Salah seorang pengurus Muhammadiyah Jawa Tengah ini berpendirian bahwa untuk melakukan sebuah perubahan perlu ada keberanian. ”Kehilangan harta dan jabatan itu kecil, namun jika kehilangan keberanian berarti kehilangan segala-galanya,” begitu Rofiq berprinsip.
Ketua Komisi Kajian Islam dan Pembangunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah ini menyadari bahwa tujuan pendidikan menurut Islam adalah membuat seseorang dapat memahami kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala (SWT) –yang tersirat dan tersurat– dengan segala peraturan-peraturan-Nya serta mampu menempatkan posisinya sebagai hamba Allah SWT. ”Karena itulah semua peserta didik harus di arahkan ke sana,” jelasnya.
Pendidikan dalam Islam, menurutnya, juga merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan, baik secara akal, mental, maupun moral. Semuanya itu untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan Khaliq-nya dan juga sebagai Khalifatu fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. ”Dari sinilah kita akan membangun peradaban Islam,” urainya.
Dengan berbagai kebijakan baru itu, Anda ingin memposisikan Unissula seperti apa?
Ini sesuai dengan missi dan visi Unnisula. Visi Unissula yaitu membangun generasi khaira ummah (umat terbaik), melalui upaya pengembangan Iptek atas dasar nilai-nilai Islam dan membangun peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera yang dirahmati Allah SWT dalam kerangka rahmatan lil a’lamin.
Sedangkan missinya adalah menyelenggarakan PTI dalam rangka dakwah Islamiyah yang berorientasi pada kualitas dan kesetaraan universal.
Kenapa mesti lewat lembaga pendidikan untuk membangun generasi khairu ummah?
Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan benar-benar bisa dirasakan dan diaktualisasikan. Itu semua sebuah proses yang panjang ketika dari sekian lama kaum Muslimin berkecimpung dalam naungan ilmu-ilmu ke-Islaman yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban yang berbeda dengan peradaban sebelumnya, sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Afrika, Asia Barat, hingga Eropa Timur.
Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa keemasan sepanjang abad pertengahan telah berhasil memberikan pencerahan di berbagai belahan dunia. Hal ini merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa peradaban Islam tidak dapat lepas dari peran serta sistem pendidikan yang berbasis al-Qur`an dan Hadits.
Apakah karena itu Unissula membangun peradaban Islam melalui tradisi keilmuan Islam?
Ya. Unissula adalah PTI sehingga punya tanggung jawab mengembangkan tradisi keilmuan Islam. Karena itulah kami rela mengucurkan dana untuk itu.
Sebagai contoh kami tetap mempertahankan eksistensi Fakultas Agama Islam dengan cara memberikan beasiswa bagi sejumlah mahasiswa, terutama dari kalangan santri yang berkualitas, misalnya hafidz al-Qur’an.
Kami menyadari bahwa peminat fakultas ini memang sepi jika dibandingkan dengan fakultas umum seperti kedokteran. Namun hal itu tidak mengurangi perhatian kami terhadap fakultas tersebut.
Apa yang dilakukan Unissula dalam membangun tradisi ilmu Islam tersebut?
Kami rutin mengadakan seminar, kajian, dan pelatihan demi meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa. Kami juga mengadakan kerjasama dengan berbagai lembaga yang menurut kami memiliki visi dan misi yang sama seperti Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, Ponorogo. Juga dengan Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS).
Kerjasama ini dimaksudkan untuk menggali lebih dalam masalah keilmuan Islam yang bisa diaplikasikan di perguruan tinggi Islam. Kami ingin Unissula menjadi lembaga pendidikan tinggi yang memiliki ciri tradisi keilmuan Islam.
Salah satu ciri tradisi keilmuan Islam adalah menyatukan antara ilmu dan amal, antara ilmu dan akhlak. Maka di dalam Islam, jika ada ilmuwan/ulama yang fasik atau rusak amalnya, dia tidak diterima sebagai bagian dari ulama Islam.
Seorang yang berilmu Islam wajib mengamalkan ilmunya. Karena itulah di kampus ini ada kewajiban melaksanakan shalat berjamaah dan berbusana Muslim. Kebijakan itu saya buat ketika saya dilantik menjabat rektor. Kemudian saya mewajibkan memakai jilbab bagi mahasiswi dan melarang siapa saja merokok di area kampus.
Saya dengar ada penentangan dari mahasiswa dan beberapa dosen. Bagaimana Anda mengatasinya?
Saya menyadari pasti akan ada pertentangan dari mereka yang merasa dirinya dirugikan karena kebiasan mapan yang mereka lakukan sebelumnya. Namun saya pelan-pelan memberikan pengertian kepada mereka bahwa kebijakan yang saya buat semuanya demi kebaikan kita bersama.
Kemudian saya mengambil langkah-langkah di antaranya, membentuk sebuah tim yang dinamakan tim motivator yang berjumlah 40-an orang yang terdiri dari dosen dan pegawai kampus.
Tim ini saya tugaskan untuk memberi motivasi kepada dosen maupun mahasiswa agar melaksanakan kebijakan yang saya buat seperti shalat berjamaah, memakai jilbab, dan tidak merokok. Tim ini bertugas memberi nasehat dan menegur mereka yang melanggar kebijakan tersebut. Alhamdulillah, hasilnya positif. Anda bisa lihat sendiri tadi jumlah jamaah shalat di masjid. Sebelumnya, hanya sekitar 20 sampai 40 orang.
Kemudian dibentuk lagi tim yang namanya Kasih Sayang. Harapan saya mahasiswa Islam harus bisa menjadi sosok teladan yang baik dan penuh kasih sayang bagi yang lain. Inilah yang yang kami sebut sebagai budaya akademik Islami.
Apa latar belakang Anda menelurkan kebijakan tersebut?
Inilah dakwah yang bisa saya lakukan untuk Islam. Ketika Allah memberi kekuasaan kepada saya, harus saya manfaatkan untuk kepentingan dakwah Islam. Saya sadar bahwa kekuasaan itu adalah amanah yang nanti pasti dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Saya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT terhadap orang-orang yang saya pimpin. Prinsip inilah yang saya pegang kuat.
Ketika mendapat amanah sebagai Rektor, saya bertekad untuk melakukan perubahan di Unissula. Di antaranya, budaya kampus yang tidak Islami.
Perubahan itu seperti apa?
Mengghapus pengaruh-pengaruh Barat seperti menghapus milad atau dies natalis yang tidak bermanfaat. Unissula telah membangun budaya baru yaitu menjiwai dan melaksanakan kalender Islam sebagai bentuk ketundukan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.
Selama 4 tahun ini Unissula telah membudayakan peringatan 1 Muharam untuk menguatkan semangat kebangkitan Islam. Peringatan ini menggantikan budaya memperingati 1 Januari (tahun baru) yang isinya hura-hura dan maksiat. Kami ingin para civitas akademika Unissula mempunyai semangat terhadap kebangkitan Islam.
Kebangkitan Islam bukan berarti menjajah bangsa non Islam, tetapi bagaimana menggantikan peradaban materi menjadi peradaban nilai yang sesuai dengan al Qur`an dan Sunnah. Salah satu peran Unissula dalam hal ini adalah rekonstruksi ilmu, pengabdian kepada masyarakat.
Lewat program BUDAI (Budaya Akademik Islami) yang kami galakkan diharapkan lahir budaya yang baik seperti bagaimana bergaul yang islami, cara menghilangkan budaya materialisme, hedonisme dan westernisasi di kampus ini. Serta, yang paling penting adalah membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Tidak hanya berhenti di situ saja, lewat program ini semua mahasiswa, dosen, karyawan diharapkan mempunyai adab-adab yang wajib ditaati, misalnya bersikap ramah, melakukan perbuatan dan perilaku yang santun, semua mahasiswi memakai jilbab, tidak merokok di area kampus, datang tepat waktu, dan shalat berjamaah.
Lewat program inilah nantinya diharapkan akan tercipta kemajuan bagi umat Islam yaitu terbentuknya generasi khairo ummah. Alumni Unissula diharapkan selain menjadi orang yang pandai dalam bidang Iptek, diharapkan juga bisa menjadi generasi Muslim yang unggul, yang siap untuk membawa kemajuan peradaban Islam. SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2008

0 komentar:
Posting Komentar