Kamis, 15 Juli 2010

Pandangan islam tentang Harta

Karakter orang miskin itu harus kita hilangkan, itu
sebabnya kita miskin. Karena tidak punya mimpi menjadi
orang kaya. Kedua, kita ini umumnya tidak ulet. Senang
difasilitasi. Dan, ada karakter yang buruk di Melayu,
pada umumnya senang diberi hadiah daripada memberi
hadiah. Bahagia dan bangga kalau ditraktir makan
daripada kalau mentraktir makan. Kalau kita ingin
menjelaskan orang Cina lebih kaya dibanding kita di
negeri ini, karena dia lebih rajin bekerja.


Saya pernah mengisi pelatihan di Telkom, saya suruh
tulis mimpi-mimpi mereka semua. Saya kasih kertas
besar, mereka menulis dan menggambar. Hampir semua
mereka membuat gambar yang sama. Sebuah rumah di
sampingnya ada sawah-sawah, disampingnya ada masjid,
kemudian ada pesawat terbang dan ada ka'bah. Saya
suruh menjelaskan. Dia bilang nanti saya berharap
insya Allah sudah naik haji sebelum pensiun setelah
pensiun nanti saya punya rumah di desa di sampingnya
ada sawah-sawah, di sampingnya lagi ada masjid. Jadi
dia ibadah kerjanya. Saya bilang bapak pensiun umur
berapa. Dia bilang 55 tahun, Mau menghabiskan sisa
umur di desa disamping masjid dan di samping sawah.
Kalau bapak diberi umur 80 tahun oleh Allah SWT-
berapa sisa umur bapak, 25 tahun akan bapak habiskan
di samping sawah. Begitu cara kita berfikir, kita
menghindari tantangan.

Saya pernah ceramah di direktur keuangan BULOG, dia
mau pensiun dini, dia tinggalnya di Patra Kuningan
dekat rumahnya Pak Habibie. Saya diminta mengisi
ceramah di rumahnya tentang manajemen harta untuk para
lansia. Yang hadir itu angkatan 63 UGM dari Fakultas
Ekonomi semuanya. Saya bilang bapak setelah pensiun
nanti mau tinggal di mana. Dia bilang mau balik ke
kampung halamannya di Solo. Saya tanya Solonya di
mana. Dia bilang agak ke pinggir sedikit. Nah kita
lihat, sudah pulang kampung ke Solo masih ke pinggir
sedikit. Dia sudah punya rumah disana di sampingnya
ada sawah-sawah, ada masjid, persis seperti gambar
orang Telkom itu. Saya bilang kenapa tidak tinggal di
Jakarta. Dia bilang siapa yang bisa tahan tinggal di
Jakarta setelah pensiun. Biaya mahal, anak saya sedang
pada kuliah semuanya saya tidak kuat nanggung.

Coba kita lihat waktu pendapatan kita berkurang yang
kita lakukan itu adalah mereduksi dan mengurangi
kegiatan kita supaya kita menyesuaikan diri dengan
pendapatan, seharusnya ketika pendapatan kita
berkurang bukan kegiatan yang kita reduksi tapi yang
kita lakukan adalah tetap memperbanyak kegiatan dan
menambah pendapatan. Jadi saya bayangkan kalau bapak
di kasih umur 80 tahun, bapak akan tinggal di kampung
itu selama 25 tahun. Sekarang saya coba
menghayal-menghayal kira-kira jadwal hariannya seperti
apa. Jam 3 insya Allah dia akan bangun qiyamul lail
sampai subuh dia sudah tidak tidur, karena orang kalau
sudah diatas 40 tahun kebutuhan tidurnya sebetulnya
cuma 2 jam, setelah subuh mungkin dia nanti wirid,
setelah itu pagi, mungkin aktivitas jalan pagi dan
lainnya selesai jam 7. Setelah itu dia mandi lalu
sarapan dia baca koran. Katakanlah selesai jam 9
setelah itu dia sholat dhuha. Setelah itu tanda tanya
karena tidak ada kegiatan yang dia lakukan. Lalu masuk
zhuhur sebelumnya dia punya waktu 3 jam, setelah itu
dia makan siang setelah itu dia tidur siang, bangun
ketika ashar. Ashar sampai maghrib yang dia lakukan
duduk-duduk diteras minum kopi sambil memandang sawah.
Sebelum maghrib dia mandi, setelah maghrib dia makan
malam sampai isya mungkin dia mengaji. Setelah sholat
isya melihat televisi sebentar setelah itu dia tidur
lagi. Kita lihat tidak ada waktunya yang produktif.
Orang ini 25 tahun menunggu kematian. Kematian itu
tidak perlu ditunggu nanti dia akan datang sendiri
kenapa kita tunggu-tunggu dia.

Kita lihat cara kita merencanakan hidup. Seharusnya di
usia seperti itulah kita bekerja makin giat karena
jadwal kita makin dekat. Kematian kita makin dekat
bukan makin berserah tetapi begitulah pikiran yang ada
pada orang-orang miskin dan karakter yang ada pada
orang-orang miskin. Orang-orang ini tidak ulet,
menghindari tantangan, tidak ingin kerja keras. Karena
itu rata-rata jadwal kerja orang miskin itu di bawah 8
jam. Sementara jadwal kerja orang kaya itu di atas 15
jam. Wajar kalau mereka jadi kaya karena jam kerja
mereka juga banyak.

Keempat, 3 sebab yang pertama inilah yang menyebabkan
mengapa kemiskinan struktural yang direncanakan oleh
musuh Islam itu bisa berhasil karena memang kita bisa
dimiskinkan, Ada pemahaman agama yang salah, ada
pendidikan yang salah, ada karakter orang miskin,
kemudian ada usaha sistematis untuk memiskinkan kita.
Jadilah kita umat yang miskin. Kita tinggal di atas
semua sumber daya alam yang begitu kaya, sementara
kita hidup sebagai orang miskin. Tidak ada alasan bagi
kita untuk hidup sebagai orang miskin. Kita lihat di
seluruh dunia sekarang ini semua sumber daya alam yang
terbaik itu ada di dunia Islam. Minyak misalnya ada di
dunia Islam, sekarang Cina, kita lihat disana ada
130-an juta orang Islam yang berbatasan dengannya. Di
wilayah yang di kuasai oleh umat Islam itu terdapat
riset minyak terbesar di Cina. Jadi semua sumber daya
energi itu, ada di kalangan umat Islam.

Itu sebabnya salah seorang pemikir Jerman
mengungkapkan alasan bahwa Islam itu menjadi musuh
Barat, sebabnya karena: Pertama, umat Islam itu
mempunyai aqidah dan aqidah ini tidak bisa dirusak
oleh penjajahan model apapun juga. Kedua, populasinya
terus bertambah sedangkan orang Barat populasinya
terus berkurang. Ketiga, karena mereka memiliki semua
sumber daya yang memungkinkan mereka mendirikan
peradaban. Kita diberi laut di Indonesia ini tapi
tidak ada yang mengelolanya, otak kita tidak dialihkan
ke sana. Kita hidup di tengah kekayaan tetapi mati
sebagai orang miskin. Ada usaha untuk memiskinkan
kita. Kenapa usaha itu berhasil? Karena ada
faktor-faktor di dalam diri kita sendiri yang membuat
itu berhasil dan inilah sebabnya mengapa perimbangan
kekuatan dalam kehidupan kita sekarang ini menjadi
tidak imbang. Karena kita bahkan tidak mau kaya. Kita
bayangkan orang seperti Bill Gate punya kekayaan lebih
dari 500 Trilyun. Itu hampir sama dengan 1 tahun APBN
Indonesia. Orang seperti George Soros itu bisa
memiskinkan 200 juta penduduk Indonesia. Bagaimana itu
bisa. Kalau kita baca George Soros itu, 'infaqnya'
pekerjaan charitynya sudah lebih dari 5 Milyar Dollar.

Kalau masalah ini sedikit kita kembangkan menjadi
semacam wawasan politik ekonomi yang lebih luas, maka
kita perlu memahami bahwa ada tiga panggung terkait
dengan ini. Panggung negara, panggung civil society
dan panggung pasar. Dari 3 panggung ini, pasarlah yang
mempunyai mekanisme bekerja paling efektif apabila
dibandingkan mekanisme negara maupun mekanisme civil
society. Itu sebabnya dari sekarang negara itu
mengalami reduksi pada otoritas-otoritasny a disebabkan
oleh tekanan pasar. Kini kita bisa dimiskinkan hanya
dengan menekan tombol-tombol elektronik. Masukkan
modal melalui komputer tarik lagi modalnya melalui
komputer dan kita semua miskin.
By: Annis Mata

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates